Thursday, June 22, 2017

MEMBINGKAI IBADAH IJTIMA’IYYAH DALAM RAMADHAN


 Islam sebagai Agama Allah Swt,  agama yang diwahyukan kepada Rasulullah SAW. Kitab suci al-Qur’an (the holy Qur’an) mengajarkan pola relasi antara Manusia dengan Pencipta-Nya yakni Allah Swt. Pola hubungan ini secara vertikal disebut hablum minallah. Relasi Manusia dengan speciesnya, secara horizontal ini disebut hablum minannas. Kemudian, secara diagonal manusia dituntut menjalin hubungan yang baik dengan alam dan lingkungan. Pola hubungan manusia dengan alam dan lingkungan disebut akhlak. Dimana manusia dituntut agar senantiasa menjaga dan merawat lingkungan disekitarnya.
Ketika memperbicangkan tema ijtima’iyyah (sosial) maka  isu yang paling krusial adalah kehadiran individu dalam  dinamika sosial dan menjadikan individu sebagai  pribadi yang saleh secara sosial. Harus diakui bahwa manusia adalah makhluk sosial (zoon politikon) dan selalu ada dalam masyarakat. Menolak atau menghindari kehidupan sosial, sama halnya menolak sifat kemanusiaannya. Tidak ada opsi lain, selain berintegrasi dengan kehidupan sosial dan berkontribusi bagi kemajuan masyarakat.
Bulan ramadhan sebagai bulan keberuntungan yaitu bulan yang menawarkan banyak pahala (reward) dari Allah Swt. Reward tersebut adalah bentuk apresiasi Allah kepada orang beriman untuk mengerjakan perintah-Nya. Bulan Ramadhan dapat membimbing manusia kearah kepeduliaan sosial dan kepekaan sosial dimana bergeser kualitas individu (individual quality)  menjadi kualitas sosial  (social quality). Kualitas sosial ini adalah kesalehan sosial yang terbentuk  dari penghayatan, kepekaan, rasa cinta, empaty, sense of crisis, kebersamaan dan sense of responsibity. Kesalehan sosial, sejatinya adalah pahatan dari kesalehan individual. Kedua bentuk kesalehan ini bukan untuk dibandingkan apalagi dipertentangkan, baik dari aspek bagus (good) dan lebih bagus (better) tetapi semua ini merupakan eksistensi religi manusia dalam menghambakan diri kepada Allah Swt.  
 Ramadhan harus menjadi tekstur religi bernuansa sosial. Karena itu ramadhan dapat memperkuat dan meneguhkan kembali ‘genetik kemanusiaan’ sebagai makhluk sosial sehingga sifat - sifat filantropi dan altruistis tumbuh subur dalam taman ramadhan. Sikap filantropi secara ontologi adalah genetik kemanusiaan. Manusia diilhami berbagai potensi oleh Allah Swt sebagai bekal hidup didunia ini, seperti, kecerdasan, rasa takut, rasa sedih, rasa cinta, keberanian dan rasa malu. Mungkin konflik dan peperangan  tidak pernah berhenti jika manusia hanya dianugrahkan satu potensi saja seperti, ‘keberanian’ atau ‘rasa berani’, sementara yang lain tidak diilhami. Maka kehidupan ini akan menjadi sejarah peperangan dan konflik, tidak akan ada sejarah perdamaian dan kemanusiaan.  
Filantropi adalah affection for mankind (kasih sayang untuk manusia). Filantropi adalah  genetik kemanusiaan, oleh sebab itu harus dikembangkan sikap filantropi dalam bulan ramadhan supaya kesalehan individu bergerak secara simultan dengan kesalehan sosial. Penting menumbuhkan sikap filantropi  sehingga menjadi manusia yang ikhlas dan penuh kerelaan membantu kepentingan publik. Islam memperbicangkan konsep filantropi ini dalam bentuk  zakat, infak, sedekah dan wakaf. Ini adalah bentuk perilaku seorang filantrop yang sangat erat kaitannya dengan kepentingan sosial jika ibadah ini jalankan dengan baik.
Islam mengajarkan umatnya untuk senantiasa berfikir pada kebaikan masyarakat. Karena itu umatnya didorong menjadi insan yang dermawan. Memiliki kemurahan hati, menciptakan keadilan dan saling berbagi untuk memperkuat ekonomi masyarakat. Sikap ini dapat dipupuk dalam ibadah puasa ramadhan dan tidak berarti bahwa setelah usai bulan ramdahan sikap filantropi hilang kembali. Sikap ini harus permanen dalam kehidupan kita karena ini adalah jalan yang diajarkan Islam. Kita dapat menyaksikan dimana Islam merekomendasikan umat agar memperbanyak sedekah dan kemudian membayar zakat untuk kepentingan publik yang berada dalam garis kemiskinan.
Ajaran Islam disamping memperbincangkan tema aqidah/keimanan, ibadah sekaligus ijtima’iyyah/mu’amalah. Tema ini untuk menyempurnakan diri kita agar menjadi manusia yang bertaqwa. Ketaqwaan adalah milik  semua orang dan siapa saja dapat menjadi orang yang bertaqwa. Tidak ada batasan quota maupun mempersempit ruang untuk sampai pada ketaqwaan. Taqwa merupakan derajat paling tinggi dihadapan Allah Swt. Taqwa adalah prediket yang paling utama, tidak ada lain derajat yang paling tinggi selain taqwa. Taqwa adalah the highest degree of mankind (derajat kemuliaan tertinggi manusia). Ibadah puasa mengajak orang - orang beriman untuk mencapai ketaqwaan. Ini merupakan derajat yang disukai oleh Allah Swt, hanya dengan derajat ini kita mendapat kebaikan dan kemuliaan disisi Allah Swt.
Ibadah ijtima’iyyah bertujuan agar setiap orang mempunyai kepedulian yang tinggi terhadap masyarakat dan dapat memperbaiki kondisi kehidupan ekonomi masyarakat yang dilanda kemiskinan. Disamping itu, ukhuwah Islamiyah akan menjadi kuat serta dapat menjadi peretas problematika ketidak adilan.  Prilaku filantropi merupakan ajaran Islam dan sebagai bentuk pengabdian kita kepada Allah Swt. Karena manusia diciptakan oleh Allah swt untuk mengabdi kepadanya. Semua perintah dan larangan-Nya adalah bagian dari penghambaan diri kepada Allah. Dalam al-Qur’an, surah Az Zariyat, ayat 56. Allah berfirman Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku”. Ayat tersebut menjelaskan kepada kita mengenai tujuan penciptaan manusia. Oleh karena itu semua perintah Allah merupakan ibadah bagi kita, termasuk menjauhi larangan-Nya. Pada akhirnya, dihadapan Allah kita menjadi manusia yang bertaqwa dan mencapai derajat yang tinggi.
Manusia dihadapkan pada dua realitas penting dalam kehidupannya yakni; kehidupan dunia sebagai fakta empirik yang ada dihadapannya. Selanjutnya adalah realitas akhirat, termasuk seluruh perbincangan eskatologi. Dua realitas ini harus diyakini ada dan sekaligus manusia harus mampu hidup dalam kedua kondisi tersebut. Suka tidak suka kehidupan akhirat wajib dijalani meskipun saat ini kita belum mampu menjangkaunya dan hanya mendapat informasi dari al-Qur’an dan Hadis Nabi. Dunia adalah ‘halte transit’ untuk menuju perjalanan berikutnya yakni kehidupan akhirat. Manusia yang cerdas adalah ketika dia mampu hidup dalam dimensi ini, dunia dan akhirat. Perbuatan  baik (good deeds) didunia berdampak pada akhirat begitu sebaliknya perbuatan buruk (bad deeds) di dunia berdampak pada akhirat.

Catatan :
Tulisan ini telah dimuat di harian Waspada, Kolom Mimbar Jum'at, Halaman C5, Jum'at, 23 Juni 2017. Judul : "Ibadah Ijtima'iyah Dalam Bingkai Ramadhan".  




Tuesday, June 6, 2017

WH BUKAN DIBUBARKAN TAPI DIOPTIMALKAN KINERJANYA


Ketika ada suara untuk membubarkan WH maka ini bukan solusi cerdas dan bukan golden way.  Solusi yang paling baik adalah mengoptimalkan fungsi institusinya dalam berbagai aspek.  Saya kira, langkah evaluasi sangat diperlukan untuk mengoptimalkan insitusi WH, baik dari aspek struktur,  kultur dan aparaturnya harus dibenahi agar kelembagaan menjadi lebih kuat dan berwibawa. Membubarkan bukan solusi bijak, memperbaiki lebih bijak daripada meruntuhkan.
Kehadiran WH (Wilayatul Hisbah) secara institusi merupakan konsekwensi dari pelaksaan syariat Islam di Aceh.  Kapasitas WH sebagai garda terdepan penegakan syariat Islam. Tentu bukan tugas biasa,  ini adalah tugas berat. Sebenarnya banyak harapan besar pada institusi WH agar sukses dalam tugasnya, meskipun dapat dipahami adanya obstacle - obstacle (hambatan-hambatan)  yang dihadapi.
Untuk itu  diperlukan evaluasi secara sistemik, terukur dan berkelanjutan.  Setidaknya upaya evaluasi dapat dilakukan dalam beberapa hal yakni:  1) SOP (standar operasional prosedur), 2) Kinerja beorientasi kepada kualitas, 3) Memperbaiki sistem rekrutmen personil WH,  4) Memberikan pemahaman hukum  Islam secara komprehensif kepada personil, dan 5) Mempertegas komitmen moral yang syariah. Hal ini perlu dilakukan mengingat tugas WH adalah tugas prophetik,  tugas mulia dan harus menjadi rahmat bagi masyarakat. Karena itu, WH harus mempunyai  bekal ilmu yang cukup dan kapable berkaitan dengan pengetahuan keagamaan dan sosial.  Untuk itu dibutuhkan training khusus supaya mempunyai kemampuan metodologi yang baik. Tentu langkah  -  langkah persuasif,  preventif dan protektif menjadi prioritas. 
Pada sisi lain, perlu disadari  bahwa pelaksaan syariat Islam bukan serta merta menjadi tugas dinas syariat Islam semata. Tetapi semua pihak tanpa terkecuali harus berperan aktif untuk membantu agar terbangunnya persepsi yang sama. Sehingga lahirnya kerjasama yg baik dan pada akhirnya mempunyai visi yang sama. Sebab Dinas syariat Islam dan WH adalah pilar utama penegakan syariat Islam. Untuk itu dibutuhkan koordinasi dan komunikasi dengan seluruh elemen masyarakat dalam semua tingkatan. Disamping itu agenda - agenda religi dinas syariat Islam harus di sosialisasi secara luas kepada masyarakat. Supaya semua pihak dapat mengetahui dengan baik.  Sehingga di masa yang akan datang tidak terjadi kesalahpahaman tentang fungsi WH. Dan pelaksanaan syariat Islam seperti yang dicita - citakan dapat terwujud dalam kehidupan pribadi dan sosial.

Langsa, 04 Juni 2017
Dr. Amiruddin Yahya, MA

(Dosen IAIN Zawiyah Cot Kala Langsa)

Komentar/pandangan saya ini telah dimuat atau di publish pada Media  Cetak dan Media Online yakni;
1. Media Cetak : Demi Kebenaran Dan Keadilan : Waspada :  Senin, 5 juni 2017. Judul : "Kinerja       WH Perlu Dioptimalkan". Penulis : m43/C
2. Media Online : Goaceh.co : Gudangnya Informasi Aceh. Minggu, 04 Juni 2017. Judul : "WH Bukan Dibubarkan tapi Dioptimalkan". Penulis : Dedek.
3. Media Online  : Media Aceh : Kritis dan Terpercaya. Minggu, 04 Juni 2017. Judul "Amiruddin : WH Bukan Dibubarkan, Tapi Dioptimalkan Kerjanya. Penulis : Fathorrahman.
4. Median Online : Harian Analisa. Senin, 5 Juni 201. Judul "WH Bukan Dibubarkan Tapi Dioptimalkan". Penulis : dir.

Thursday, June 1, 2017

RELASI ZAWIYAH COT KALA DAN DINASTI ABBASIYYAH


Zawiyah Cot Kala sebuah perguruan tinggi Islam pertama Indonesia. Zawiyah Cot Kala secara kelembagaan berbentuk Universitas Islam. Tradisi keilmuan dan kurikulum yang dikembangkan tidak hanya materi keislaman, akan tetapi pengetahuan umum menjadi bagian terpenting dalam studi di Zawiyah Cot Kala. Zawiyah Cot Kala didirikan pada tahun 285 H atau 899 M di Aramiya - Bayeun  oleh  Teungku Chik di Cot Kala Meurah Muhammad Amin. Dalam dialek Aceh nama ‘Zawiyah’ berubah sebutannya menjadi Dayah. Jadi kata Dayah merupakan ucapan atau sebutan masyarakat Aceh untuk  ‘Zawiyah’.
Model Integrasi ilmu seperti yang dikembangkan Universitas Islam, sebenarnya sudah ada pada ‘Zawiyah Cot Kala’. Karena itu, alumninya tidak hanya memiliki pengetahuan agama akan tetapi memiliki pengetahuan umum sehingga alumni mempunyai paradigma integratif. Dinasti Abbasiyah memainkan peranan penting dalam kemunculan Zawiyah Cot Kala pada masa kerajaan Pereulak - Aceh. Pemerintah kerajaan  Peureulak  mendirikan  lembaga ‘Zawiyah Cot Kala’ paska kedatangan ekspedisi Nakhoda Khalifah dari Dinasti Abbasiyah dan memperkenalkan Az-Zawiyah.
Az-Zawiyah merupakan model Lembaga Pendidikan Dinasti Abbasiyah. Kurikulum yang diajarkan di ‘Zawiyah Cot Kala’, yakni; Mata pelajaran agama Islam seperti sistem Dayah sekarang, ilmu ketentaraan, pelajaran kenegaraan, filsafat/ilmu falak, pelajaran pertanian, pelajaran peternakan, pelajaran perikanan/pelayaran, pelajaran ekonomi, pelajaran pertukangan, dan lain-lain.  Sedangkan Sekolah Islam Tinggi (SIT) yang dipimpin Mahmud Yunus pada tahun 1940 M di Minang Kabau berbeda dengan ‘Zawiyah Cot Kala’, begitu juga dengan Sekolah Tinggi Islam (STI) di Jakarta tahun 1945. Perguruan tinggi  Islam tersebut secara kelembagaan  berbentuk ‘Sekolah Tinggi’, dan hanya memfokuskan  pada ilmu pengetahuan agama Islam saja. Sedangkan ‘Zawiyah Cot Kala’, dilihat dari kelembagaan berbentuk ‘Universitas Islam’, karena kurikulumnya terintegrasi antara pendidikan agama dan pendidikan umum.
Mehmet Ozay[1] pada artikelnya yang berjudul ‘Baba Davud : A Turkish Scholar in Aceh’  dalam buku ‘Ottoman Connections to the Malay World : Islam, Law and Society’ dikatakan bahwa  atas  persetujuan dan dukungan para penguasa, lulusan ‘Dayah Cot Kala’ dikirim ke Mekkah, Madinah, Baghdad dan Kairo untuk mengkhususkan diri dalam bidang keilmuan yang mereka pilih disana. Dayah Cot Kala yang didirikan oleh Teungku Muhammmad Amin sebagai pusat pendidikan yang menyerupai universitas modern. Lembaga ini didalamnya mengimplimentasikan program pelatihan multi-fungsional yang terdiri dari pengetahuan Islam (islamic knowledge), sejarah (history), geografi (geography), keuangan (finance), pertanian (agriculture), astronomi (astronomy), dan kursus lainnya.
Mohd. Syukri Yeoh Abdullah salah seorang profesor dari Universitas Kebangsaan Malaysia (UKM) dalam acara kuliah umum bertajuk ‘Sumperan Zawiyah Cot Kala dalam Islamisasi Alam Melayu’ yang diselenggarakan Sekolah  Pascasarjana (SPs) UIN Jakarta pada tanggal 1 November 2011 mengatakan Zawiyah Cot Kala adalah pusat kajian ilmu Islam pertama yang ada di Pereulak  banyak mengkaji tentang ilmu keislaman seperti  prinsip hidup, membina jaringan dengan musafir, dan kegiatan sosial yang menarik masyarakat Pereulak. Bahkan dia mengatakan Sunan Giri, Sunan Gunung Jati dan Sunan Bonang menurut silsilah sanad ‘Zawiyah Cot Kala’ adalah para murid yang ditugaskan untuk menyebarkan Islam di pulau Jawa.[2] 
Ayi Jufridar, seorang penulis asal Aceh dalam lembaran karyanya berjudul ‘Putroe Neng’ menyebut ‘Zawiyah Cot Kala’ sebagai lembaga pendidikan Islam di Bandar Pereulak  fokus pada pendidikan duniawi dan ukhrawi. Artinya lembaga pendidikan Islam yang mengcombine antara pengetahuan perennial knowledge (ilmu wahyu) dan acquired knowledge (ilmu perolehan).
Tidak diketahui kapan ‘Zawiyah Cot Kala’ berhenti aktivitas pembelajaran. Informasi yang diperoleh sangat sedikit mengenai stagnasi existensinya. Banyak spekulasi untuk menjawab kapan ‘Zawiyah Cot Kala’ berhenti aktivitas. Kuat dugaan adalah ketika kehadiran kolonial di Aceh. Sebab, kehadiran kolonial berkontribusi terhadap kemunduran sekaligus penutupan perguruan tinggi Islam, seperti kondisi yang dialami Sekolah Islam Tinggi (SIT) di Minang Kabau terpaksa ditutup setelah kolonial Jepang memasuki daerah tersebut. Karena Jepang hanya mengizinkan penduduk pribumi hanya boleh melaksanakan pendidikan Islam setingkat Madrasah Tsanawiyah dan Madrasah Aliyah.





[1] Saim Kayadibi (Editor), Ottoman Connection To The Malay World : Islam, Law And Society (Malaysia : The Other Press Sdn. Bhd, 2011) h. 36
[2] Hamzah Farihin, Berita UIN Online Syarif Hidayatullah Jakarta, 2011

Tuesday, May 30, 2017

BUTUH KESEPAKATAN NASIONAL TENTANG TITIK NOL ISLAM NUSANTARA


Dalam menyelesaikan isu titik nol Islam Nusantara tidak cukup dengan ‘Seminar Nasional Terbatas’ tanpa melibatkan seluruh elemen penting di negeri ini termasuk pemerintah. Untuk menjawab hal ini maka dibutuhkan suatu  ‘Kesepakatan Nasional’, yakni suatu  kesepakatan dengan melibatkan semua unsur masyarakat, termasuk pemerintah, akademisi, sejarawan, pemerhati sejarah supaya endingnya mendapatkan hasil yang memuaskan. Kenyataan hari ini Barus telah ditabalkan sebagai titik Nol Islam Nusantara. Kemudian bagaimana dengan keberadaan Aceh sebagai pintu masuk Islam di Nusantara. Pemerintah Aceh dan Dewan Perwakilan Rakyat Aceh (DPRA) harus bergandeng tangan membicarakan persoalan ini dengan pemerintah Pusat dan mencari solusi bagi kelangsungan sejarah Aceh.  
Kepekaan pemerintah Aceh dalam menyelesaikan persoalan ini sangat diharapkan dan menjadikan isu titik Nol Islam Nusantara sebagai agenda primer.  Disamping untuk mensinergikan dengan pelaksaan Syariat Islam. Pemerintah  Aceh memiliki kewenangan yang besar untuk membahas dan mencari solusi berkaitan dengan isu tersebut supaya sejarah menjadi lurus dan selurus lurusnya. Terlepas siapa yang akan menyandang prediket ‘Titik Nol Islam Nusantara’. Sejarah ini penting diluruskan agar generasi berikutnya mengerti tentang sejarah Islam Nusantara karena ini bagian dari legacy Indonesia. Pemerintah mempunyai tugas yang multitasking termasuk didalamnya bertanggung jawab dalam  menjaga dan melestarikan sejarah di wilayahnya. Oleh karena itu, Pemerintah Aceh juga harus dapat memberikan informasi yang benar dan tepat ketika ada pertanyaan mengapa Aceh tidak ditabal sebagai titik Nol Islam Nusantara.
Dapat dipahami adanya stimulasi yang tinggi dari para akademisi di Aceh untuk mengadakan ‘Seminar Nasional’ guna  mendiskusikan titik Nol Islam Nusantara. Upaya ini tidak salah dan diperlukan untuk menguatkan sekaligus sebagai counter issue berkaitan titik Nol Islam Nusantara. Bahkan semakin banyak seminar akan semakin baik, artinya masyarakat semakin tinggi kepedulian pada sejarah. Meskipun demikian, tetap saja diperlukan ‘Kesepakatan Nasional’ dengan melibatkan semua pihak terutama pemerintah daerah dan pusat. Jika ‘kesepakatan Nasional’ tidak ada maka dikuatirkan akan selalu ada perubahan dalam sejarah. Meskipun sejarah dapat berubah tetapi diperlukan pembuktian dengan data - data yang kongkrit dan tidak serta merta data baru mengubah sejarah begitu saja, akan selalu ada proses dialektika.



Saturday, May 27, 2017

MENJADI SARJANA


Menjadi sarjana bukan instat atau karbitan, tetapi butuh proses panjang dan ditempa secara sistemik dan terstruktur. Sarjana, baik secara simbolik maupun substantif dapat  diartikan sebagai insan akademis dan berpengetahuan luas.  Sarjana juga disebut sebagai orang pintar dan pandai, penyebutan ini tentu tidak serta merta namun selalu ada kondisi melatarbelakanginya. Sarjana identik dengan perguruan tinggi sehingga ketika sudah meraih gelar sarjana maka orang tersebut merupakan produk dari perguruan tinggi. Oleh karena itu, sarjana identik dengan perguruan tinggi. Dan menurut hemat saya bahwa hanya lembaga perguruan tinggilah yang boleh memberikan gelar sarjana.
Disamping itu, menjadi sarjana tidak mudah dan tidak segampang yang dipikirkan. Karena menjadi sarjana adalah sebuah proses. Karena sebuah proses tentu ada timing sekaligus dibutuhkan keseriusan. Disisi lain, kampus sebagai lembaga produksi sarjana tentu memiliki seperangkat pembelajaran akademik yang harus dilalui oleh calon sarjana. Jadi setiap orang yang mau menjadi sarjana harus bersedia dididik, diajarkan dan bersedia mengorbankan waktu, tenaga dan pikirannya untuk perkuliahannya serta finansial. Tidak ada yang instat dan karbitan, jikapun ada bukanlah dari perguruan tinggi yang bonafit bahkan terkadang ada istilah ‘sarjana palsu’, maknanya tidak kuliah tapi punya ijazah sarjana.
Ada beberapa alasan setiap orang memilih menjadi sarjana. Pertama,  prestise : tentu hal ini tidak salah karena menjadi sarjana juga berkaitan dengan kewibawaan. Kedua, Status sosial : artinya ketika seseorang sudah memperoleh gelar sarjana, maka dimasyarakat orang tersebut akan memiliki kedudukan yang penting. Ketiga, Keinginan orang tua : Menjadi sarjana bukan motivasi dirinya akan tetapi lebih dari keinginan orang tua. Keempat, Mendapatkan pekerjaan : Motivasinya menjadi sarjana yakni bagaimana mendapatkan pekerjaan yang layak dan tepat sesuai dengan gelar akademik. Kelima, Mendapatkan pengetahuan : Ini motivasi yang lahir dari seseorang bahwa ilmu pengetahuan adalah target utama sedangkan gelar sarjana merupakan konsekwensi dari pembelajaran.  
Lima alasan diatas tidak menutup bagi munculnya alasan lain yang lebih mendasar. Meskipun demikian untuk mewujudkan kelima alasan tersebut butuh proses dan kerja keras. Setiap orang harus rela mengorbankan semua yang dimilikinya untuk mewujudkan lima alasan tersebut. Pengorbanan disini yakni; (1) dimana setiap calon sarjana harus bersedia waktunya habis di perguruan tinggi dan diatur dengan aturan akademik. (2) Mencurahkan pikiran untuk belajar dan menganalisis serta menyelesaikan persoalan pembelajaran. (3) Semua daya fisik maupun psikis diarahkan pada proses pembelajaran sehingga energi yang dimiliki dapat digunakan dengan sebaiknya untuk pencapaian tujuan. (4) finansial : keuangan juga sangat dibutuhkan dalam mencapai gelar sarjana meskipun hampir semua kampus menawarkan bea siswa pendidikan.
Oleh sebab itu, tidak mudah menjadi sarjana. Hanya orang - orang tertentu dan memiliki kesiapan untuk berjuang sekaligus berkompetisi dalam dunia akademik. Kompetisi yang dimaksud adalah bergelut dalam pengkajian ilmu pengetahuan. Dan banyak orang tidak siap untuk menjadi sarjana dikarenakan tidak mempunyai kesiapan dalam banyak hal yang disebutkan diatas. Namun ini akan berbeda dengan orang yang memang tidak tertarik menjadi sarjana bahkan memilih untuk tidak menjadi sarjana. Tentu, ini akan berbeda lagi alasanya.  


Wednesday, May 24, 2017

SERINGLAH BELAJAR


Sering terdengar kata belajar, apakah belajar sesuatu yang penting atau tidak. Pertanyaan ini adalah pertanyaan substantif. Jika tidak penting maka belajar minus manfaatnya. Sebaliknya, apabila belajar bermanfaat maka belajar menjadi sesuatu keharusan. Jika suatu keharusan, maka tidak boleh sedikitpun dari waktu yang kita miliki tidak digunakan untuk belajar.
Belajar adalah aktivitas ilmiah dan logis, sebab belajar suatu proses mengetahui sesuatu yang sebelumnya tidak diketahui. Pengetahuan akan didapat dengan serta merta dengan suatu aktivitas yang melibatkan pikiran dan memaknai. Apabila seseorang sudah memiliki pengetahuan tentang sesuatu berarti orang tersebut tidak perlu lagi belajar. Karena belajar diartikan suatu proses mengetahui sesuatu yang baru. Banyak hal dalam kehidupan ini belum terungkap dan diungkap sehingga aktivitas belajar perlu dilakukan.
Bahkan belajar tidak mengenal batas usia, sebab belajar tidak dibatasi dengan waktu. Semua orang harus belajar tentang kehidupan ini supaya dapat mengetahui banyak hal dan pada akhirnya menjadikan seseorang pintar, arif, dan mampu memaknai kehidupan ini dengan sebaik-baiknya. Dalam pendidikan dikenal dengan pernyataan ‘long life education’, sebuah pernyataan yang mengisyaratkan bahwa usia tidak pernah dibatasi untuk belajar. Artinya, proses pendidikan berlangsung seumur hidup. Sedangkan esensi dari pendidikan adalah belajar.
Salah satu perubahan sosial adalah pendidikan. Disamping terdapat faktor lain yang ikut serta mendorong perubahan sosial. Ketika pendidikan seseorang membaik maka kehidupan seseorang akan membaik juga. Begitu juga dengan kehidupan bangsa, ketika suatu bangsa pendidikannya bagus atau high quality, maka secara otomatis peradaban bangsa tersebut ikut menjadi bagus.  Pada sisi lain, banyak orang - orang sukses di dunia ini tidak ada yang tidak belajar. Dan belajar tidak selalu harus formal dengan kelembagaan yang formal juga. Tidak menjalani pendidikan formal dan berpendidikan tinggi tidak berarti orang tersebut tidak belajar. Orang akan selalu belajar, apalagi jika berkaitan dengan bidang keahlian dan pekerjaannya.

Ada orang belajar dari kegagalannya bahkan dari keberhasilannya. Karena kegagalan akan menyumbang pengetahuan yang berharga untuk dirinya, namun apabila orang tersebut mau belajar dari kegagalan sehingga muncul sikap positif sehingga dikemudian menjadi perbaikan. Bahkan, penting bagi setiap orang untuk selalu belajar dari kegagalan, keberhasilan dirinya bahkan dari orang lain. Membaca riwayat hidup atau biografi orang lain penting  karena akan menjadi pengalaman buat kita. Setidaknya, kita dapat mengerti metode dan strategi yang pernah dilakukan oleh orang lain dalam mencapai visi pribadinya maupun lembaga dimana seseorang bekerja.

Tuesday, May 23, 2017

BUKAN KRISIS ULAMA



A.    PENDAHULUAN

Berbicara tentang ulama merupakan perbincangan yang menarik dan mengundang  perhatian semua pihak. Ulama adalah manusia biasa, seperti manusia pada umumnya. Ulama bukanlah Nabi yang menerima wahyu untuk disampaikan kepada manusia. Dan bukan Rasul yang diutus untuk umatnya. Ulama merupakan bagian terpenting dari diskusi keislaman. Dimana Ulama mempunyai peran penting dan penentu bagi tegaknya ajaran Islam. Sebab, ulama adalah figur ilmuwan Islam dan pewaris Nabi. Ulama sebagai pengganti Nabi, karena periode kenabian telah berakhir. Dan tidak ada Nabi yang akan muncul dan diutus kembali setelah Nabi Muhammad Saw wafat. Ulama sebagai figur ilmuwan Islam tentu memiliki kompetensi dan integritas yang tinggi untuk menjadi pengganti Nabi.
Setiap individu terbuka peluang untuk menjadi ulama dan tidak ada batasan kuota yang ditentukan, jadi siapa saja yang ingin memilih menjadi ulama tidak dilarang. Justeru didorong agar umat Islam memperdalam ilmu agamanya dan keimanannya. Ulama tidak terlahir secara alamiah tetapi harus dibentuk dan dididik agar menjadi ulama. Hal ini berbeda dengan para Nabi dan Rasul yang sudah ditentukan oleh Allah Swt. Artinya, peluang untuk membentuk dan melahirkan ulama sangat diperlukan dalam rangka melanjutkan risalah kenabian dan menjaga otentisitas ajaran Islam yang dibawa Nabi Muhammad Saw dapat terpelihara dengan baik. Jika kemudian terjadi krisis ulama, maka kondisi ini sangat dilematis dan menyedihkan. Kemurnian (pure) ajaran Islam tidak akan terpelihara dengan baik manakala jumlah ulama relatif terbatas. Krisis ulama dilihat bukan dari krisis kepribadian dan keilmuan, akan tetapi dilihat dari kuantitas ulama yang terbatas.
Kerap terdengar pernyataan krisis ulama, apakah pernyataan ini ingin mengatakan bahwa jumlah ulama di negeri ini sudah terbatas atau stocknya sudah berkurang sehingga memunculkan pernyataan tersebut. Apabila  terjadi krisis ulama, siapa yang bertanggung jawab dan siapa yang akan menjamin tidak akan ada krisis. Atau maksud dari pernyataan tersebut ingin mengatakan bahwa bukan  krisis ulama  tetapi krisis aktualisasi ulama. Karena antara krisis  ulama dengan krisis aktualisasi ulama berbeda. Meskipun demikian yang namanya krisis itu tetap tidak menyenangkan dan akan berdampak buruk bagi upaya penguatan ajaran Islam serta umat Islam akan kehilangan pembimbingnya.

1.        Tidak ada Krisis Ulama

Makna krisis lebih pada situasi dimana terjadi kemorosotan dan  kekurangan atau mengarah pada situasi yang genting. Sehingga membutuhkan penanganan yang serius dan diperlukan antisipasi yang cepat agar situasi itu tidak terjadi. Krisis ulama adalah gambaran mengenai  jumlah ulama secara kuantitas sudah sangat terbatas.  Keterbatasan ini, tentu menjadi masalah yang serius, jika memang kondisi ini benar-benar terjadi. Pertanyaannya,  kenapa terjadi krisis ulama, bukankah kita mengetahui bahwa jumlah lembaga pendidikan Islam di negeri ini sangat banyak. Dan apakah lembaga pendidikan Islam tersebut tidak berjalan dengan baik sehingga proses pembentukan ulama mengalami stagnan. Sebab, ulama terlahir dari rahim lembaga pendidikan Islam, hampir tidak ada individu berstatus ulama yang tidak dibentuk melalui lembaga pendidikan Islam.
Ribuan lembaga pendidikan Islam terus berusaha untuk melahirkan ulama, mulai dari madrasah, pasantren baik yang bersifat tradisionil (salafi) maupun modern (khalafi) dan perguruan tinggi Islam. Dan jumlah  lulusan dari lembaga ini juga ribuan setiap tahunnya. Akankah  pernyataan krisis ulama dapat diterima logika dan nalar sehat.  Jika, dilihat dari jumlah lembaga pendidikan Islam tersebut,  sepertinya tidak mungkin krisis ulama, justeru surplus ulama di negeri ini. Kalau surplus, berarti krisis tidak pernah ada. Jika tetap krisis, maka sangat tidak rasional. Kondisi yang paling mungkin dan rasional adalah krisis aktualisasi ulama yang terjadi dan bukan krisis ulama.


2.        Krisis Aktualisasi Ulama

Bukan krisis ulama, tetapi krisis aktualisasi ulama. Krisis aktualisasi ulama berbeda dengan krisis ulama. Krisis ulama dilihat dari kuantitas, sedangkan krisis aktualisasi ulama dilihat dari eksistensi. Secara empirik, eksistensi ini terlihat dalam aktualisasi personal. Jika lulusan atau alumni lembaga pendidikan Islam tidak konsen dan komit dengan disiplin ilmu yang dipelajari dan diaktualkan dalam kehidupan sosial, maka secara eksplisit terlihat sebuah kondisi krisis. Padahal, sejatinya tidak krisis bahkan surplus. Aktualisasi menjadi aspek terpenting, supaya ilmu yang diperoleh lebih aplikatif di masyarakat. Cita-cita ideal lembaga pendidikan Islam agar para lulusannya berkiprah sesuai dengan disiplin ilmu yang ditekuni dan harus linier dengan profesi dan pekerjaannya. Sebab, barometer untuk melihat sukses dan tidak suskesnya lulusan juga dilihat dari kesesuaian antara ilmu yang dipelajari dengan profesi yang ditekuni. Jika lulusan tidak bekerja sesuai dengan disiplin ilmunya, maka aktualisasi personal tidak berjalan dengan baik  sehingga upaya untuk  evaluasi  menjadi pilihan yang segera dilakukan. Atau adanya kondisi tertentu yang membuat lulusan tersebut mengaktualkan dirinya bukan dalam bidang keilmuannya.
Nah, inilah yang disebut dengan krisis aktualisasi ulama dan bukan krisis ulama. Jika saja semua lulusan atau alumni eksis maka pernyataan krisis ulama tidak muncul kepermukaan. Hanya saja diperlukan proses upgrade para lulusan untuk lebih meningkatkan kualitasnya. Kualitas ini juga akan menentukan perbedaan diantara ulama itu sendiri. Ketika, eksistensi dan aktualisasinya lebih kuat, maka akan muncul ulama populer dan tidak populer, ulama yang kondang dan tidak kondang.  Dan tidak berarti yang tidak populer dan tidak kondang bukan ulama. Mereka semua ulama, karena dibentuk dan dilahirkan dari lembaga pendidikan Islam, baik formal maupun non formal.  Sebagai ilustrasi, ketika seorang sarjana lulus dari perguruan tinggi Islam dengan prediket cumloude, sangat memuaskan dan memuaskan. Namun mereka  tetap disebut  sarjana tanpa penyebutan tingkat prestasi kelulusannya, misalnya; sarjana cumloude, sarjana sangat memuaskan dan sarjana memuaskan. Artinya, mereka semua disebut sarjana setelah lulus, walaupun indek prestasi mereka berbeda satu dengan lainnya. Terlepas dari semua itu, pernyataan mengenai  krisis ulama  sesungguhnya  tidak ada  manakala kita setuju dan mengakui bahwa semua lulusan lembaga pendidikan Islam adalah ulama. Maka yang ada hanya krisis aktualisasi ulama.

3.        Siapa Yang Disebut Ulama
Ulama bukanlah insitusi atau organisasi. Ulama adalah  makna umum untuk menyebut kompetensi  personal dalam bidang ilmu keislaman. Ulama, gambaran sosok ilmuwan Islam dan mempunyai kepribadian yang baik (excellent). Meskipun, secara organisatoris  ada lembaga ulama yang dikenal dengan Majelis Ulama Indonesia (MUI) atau Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU). Lembaga ini adalah wadah berkumpulnya para ulama yang berfungsi untuk menjamin tegaknya ajaran Islam dan pembimbing umat Islam. Ulama adalah individu yang mapan keilmuannya, walaupun individu tersebut tidak bergabung atau masuk dalam lembaga ulama. Dan tidak berarti individu tersebut bukan ulama. Jadi, sosok ulama bukan dilihat dari organisasi ulama tetapi dilihat dari kompetensi keilmuannya. Dan banyak sekali ulama yang tidak bergabung dan masuk dalam organisasi namun mereka tetap eksis dan terus mengaktualisasi dirinya sebagai pembimbing umat Islam.
Begitu juga ulama yang tidak eksis di masyarakat, tetapi mereka semua adalah ulama dan jumlah mereka juga banyak. Sebab, lembaga pendidikan Islam telah membentuknya menjadi ilmuwan Islam, yakni individu yang ditempa untuk mendalami ajaran Islam. Hanya saja  eksistensi mereka pasif dan tidak aktif seperti ulama yang populer dan dikenal oleh semua orang, baik tingkat lokal, regional, nasional maupun international. Ulama adalah ilmuwan Islam yang tiada hentinya berjuang dan mengabdikan dirinya untuk umat Islam dan bangsanya. Mereka adalah para ustadz, kiyai, da’i, tengku dan  sarjana Islam atau sebutan dengan nama lainnya. Namun mereka semua adalah orang yang sangat mengerti tentang ajaran Islam. Hanya saja tingkat popularitas mereka diukur dengan kualitas dan kemampuan  dalam mengaktualisasikan dirinya pada ruang publik. Dan pada akhirnya, ulama tersebut dikenal dan dikagumi oleh masyarakat.
Dalam konteks Indonesia saya melihat bahwa sosok ulama lebih dikenal dengan sebutan ustadz, tengku, kiyai, da’i dan sarjana Islam atau sebutan nama lain yang merujuk pada kemampuan dan kedalaman ilmunya dalam bidang agama Islam. Jika sebutan diatas  bukan untuk menunjuk pada term ulama, maka siapa lagi yang disebut ulama. Bukankah lembaga pendidikan Islam yang bertanggung jawab untuk melahirkan ulama. Bukankah kita mengetahui bahwa tidak ada sekolah yang khusus untuk melahirkan ulama atau sekolah ulama. Jika ada sekolah ulama, maka sekolah itulah yang kemudian bertanggung jawab untuk membentuk dan melahirkan ulama.  Dan kita juga mengetahui bahwa MUI dan MPU telah menyusun program pendidikan kader ulama. Apakah lulusan pendidikan tersebut yang disebut ulama sehingga mendapat lisensi memakai gelar ulama yang mendapat legalitas dari MUI dan MPU. Atau program pendidikan kader ulama sebagai respons atas krisis ulama atau respon terhadap krisis aktualisasi ulama sehingga menyita perhatian MUI dan MPU segera mengambil langkah antisipasinya. Tetapi, setidaknya MUI dan MPU telah merasakan adanya krisis aktualisasi ulama dan bukan krisis ulama sehingga dibutuhkan program memperkuat posisi ilmuwan Islam atau ulama. Dan ini merupakan program brilian dalam memahami kondisi kekikinian.

B.     PENUTUP
Ulama tidak terlahir secara alamiah tetapi harus dibentuk dan dilahirkan untuk menjadi ulama melalui proses pendidikan. Pendidikan faktor penting dan menentukan bagi kemunculan ulama. Kharismatik atau tidaknya ulama ditentukan oleh ulama itu sendiri, populer dan tidak populernya ulama dilihat dari  seberapa besar pengaruhnya dimasyarakat dan tingkat pengetahuannya terhadap agama Islam serta kepribadiannya.  Tidak ada batasan kuota ulama sehingga harus ditentukan jumlah kelahirannya. Pintu menjadi ulama terbuka lebar dan mengundang siapa saja yang ingin menjadi ulama atau ilmuwan Islam.
Negara telah membuka peluang tersebut dengan menyelenggarakan lembaga pendidikan Islam ditanah air dan memberikan izin kepada lembaga pendidikan Islam yang dilaksanakan oleh masyarakat dengan jumlah yang relatif banyak. Oleh karena itu, siapapun dari umat Islam tanpa terkecuali  dapat mengakses dan belajar dilembaga tersebut. Dan kita berharap semua lulusan lembaga pendidikan Islam dapat mengaktualisasikan ilmu yang diperolehnya untuk kepentingan umat Islam dan negara serta krisis aktualisasi ulama tidak akan ada lagi. Dan Indonesia menjadi negara para ulama, sebab Indonesia merupakan negara yang mayoritas rakyatnya beragama Islam.

MEMBINGKAI IBADAH IJTIMA’IYYAH DALAM RAMADHAN

  Islam sebagai Agama Allah Swt,   agama yang diwahyukan kepada Rasulullah SAW. Kitab suci al-Qur’an ( the holy Qur’an ) mengajarkan po...